Aku ko masih merasakan terluka karena suka pada seseorang ya? Padahal sih itu sudah sekitar sebulan yang lalu aku putuskan “it’s over” ke dia. Masih saja hal-hal yang berhubungan dengan dia, walaupun itu kecil kadarnya, merupakan poin yang bikin aku sensitif. Kenapa ya?
Aku tahu dan sangat tahu kalau apa sudah aku putuskan itu adalah buah dari kesadaranku sepenuhnya. Secara logika aku sudah ambil langkah, namun secara emosional aku masih sulit untuk menjalankannya. Munafik? Apa aku bisa dibilang seperti itu ya?! Menurutku ini proses sih. Ternyata proses yang harus aku jalani itu sampai buat aku seperti orang yang kurang waras saja. Contohnya malam ini. Rasa sakit dari luka yang mengoyak serasa terasa ngilu. Di permukaannya terlihat kering tapi siapa yang tahu di dalamnya masih terjadi proses perangkaian benang-benang fibrin. Intinya, luka ini belum sembuh seratus persen. Untuk bersinggungan lagi dengan kisah cinta yang baru, aku sangsi luka ini sudah cukup kuat untuk menahannya.
Sejak dulu ternyata aku masih belum ada perubahan , yaitu aku susah untuk jatuh cinta serta berat untuk melepas cinta yang pernah tumbuh sumbur di ladang romansaku. Ada juga sih aku yang bisa lebih mudah untuk melepaskan. Orang lain banyak yang selepas putus ganti bibit baru yang lebih fresh. Ada juga yang benar-benar sudah die-hard cintanya.
Mungkin aku memang lagi sensitif malam ini sehingga hal-hal yang sehari-hari aku anggap biasa dan yang sudah diikhlaskannya kembali menjadi persoalan yang seakan-akan itu nyata hidup kembali, tapi sebenarnya aku tahu kalau itu semua hanyalah fiktif yang dibumbui oleh emosi dari diri aku sendiri. Hal seperti ini sudah sering aku alami, berkaitan dengan kisah-kisah cinta yang dahulu. Dan kesemuanya sudah aku lalui dengan hikmah-hikmah yang sudah aku ketahui. Ternyata emosi mengalahkan semua logikaku. Aku nggak seharusnya kalah dengan emosiku ini justru akulah yang mengendalikannya. Ada hal yang terdengar lirih berbisik ke aku, “nikmati masa ‘jatuh’ seperti ini.” Is that true?
Oyah, aku juga memandangi foto dia di laptopku. Dia yang tersenyum ceria dengan berbaju putih yang masih aku kenal melekat di tubuhnya. Poni rambutnya masih jatuh, tidak seperti sekarang yang sudah tumbuh memanjang sehingga berganti model menjadi poni lempar. Foto itu dibuat sehari setelah aku pertama kali bertemu dia. Aku ingat betul. Eh, kenapa kau ko justr nostalgia ya? Bukannya itu justru makin bikin aku jadi inget dia? Ntar lukaku ga sembuh donk.
Dit, ayo ‘bangun’! Kamu jangan cengeng terus menerus gini donk. Orang yang tahu tidak akan menaruh kasihan ke kamu. Mereka justru akan senang kalau kamu semangat untuk bangkit. Percuma kamu mengalah sama emosi kamu. Buat apa juga. Seandainya ini hari terakhir kamu, kamu ntar nyesel lho nggak bisa bahagia ketika hidup. So, cheer up, Dit! =)
Cikini, 26 Desember 2006
Label: Curhat-curhatan

0 Comments:
Posting Komentar
<< Home